PMII dan Kaderisasi


PMII dan Kaderisasi

Karya: Rizal A.R

(Di Kutip dari Buku Pendidikan Kritis Transformatif) Individu-individu yang membentuk komunitas PMII dipersatukan oleh konstruks ideal seorang manusia. Secara idelogis, dan PMII merumuskan sebagai ulul albab-citra diri seorang kader PMII. Ulul albab secara umum diartikan sebagai seorang yang selalu haus akan ilmu pengetahuan (olah pikir) dan ia pun tak pula mengayun dzikir, dengan sangat jelas citra ulul albab disarikan dalam motto PMII dzikir, pikir dan amal sholeh.

Asal usul istilah pelopor berasal dalam khasanah politik. Pertama kali diperkenalkan oleh Lenin di Rusia pada sekitar tahun 1980-an, istilah yang digunakan dalam menyebut suatu partai pelopor (Vanguard party). Artinya, kepeloporan pada mulanya bermakna politik, dalam pengertian Lenian ini kepeloporan dimaknai sebagai kepeloporan politik atau propaganda. 

Setelah 60 tahun mengalami pergulatan, proses kaderisasi yang merupakan urat nadi organisasi tak boleh mengenal kata cuti, penghayatan terhadap zikir, fikir dan amal saleh yang menjadi tri motto PMII itu sendiri harus senantiasa di galakkan, mengingat seringkali dari bagaimana roda-roda organisasi dan agenda perjuangan gerakan mengalami distorsi, stagnasi bahkan disorientasi karena ketidak fahaman terhadap landasan ideologis, filosofis historis dan semakin jauhnya agenda perjuangan dari nilai dasar yang menjadi flatform organisasi tersebut. 

Melakukan reformulasi paradigma gerakan adalah sebuah kefardhuan, paradigma berbasis kajian multidisipliner dengan mempertimbangkan kenyataan kekinian mengingat khazanah keilmuaan yang menjadi wahana pengkajian di PMII sangatlah holistic serta universal, beragam dari ilmu keislaman berbasis tradisi pesantren, ide-ide dari aliran modernisme hingga postmodernisme sehingga gagasan-gagasan kritis progresif serta karya pemikiran sejumlah pemikir, intelektual, cendikiawan dari berbagai mazhab sejak era Thales hingga Gus Dur.

Hal ini di harapkan dapat terkonsolidasi di semua level struktur dan segenap gerakan kultur agar paradigma sebagai alas pijak membaca zaman dapat bertransformasi menjadi praksis gerakan yang konstruktif di tengah berbagai problematika multidimensi yang sedang terjadi. Maka dari itu kemudian orientasi kaderisasi PMII kedepan harus fokus di arahkan pada pembentukan insan yang memiliki spritualitas yang kuat, kapasitas intelektual yang mumpuni dan profesionalitas, agar semua idealitas di maksud akan terwujud jika PMII konsisten menjadi organisasi kader yang giat melakukan kaderisasi dan bukan menjadi organisasi mahasiswa yang sibuk merekrut anggota untuk interest politik semata. Barangkali  itulah yang menjadi ikhtiar untuk saat ini dalam melawan fenomena senjakala gerakan mahasiswa, karena PMII adalah wadah konservatorium eksponen gerakan kaum muda menuju capaian insan ulul albab sesuai cita-cita berdirinya PMII.

Sejak indonesia resmi menjadi negara pada tahun 1945, PMII menjadi salah satu bagian yang paling menentukan dalam membaca dinamika kebangsaan. PMII turut merumuskan konsepsi demokrasi, melakukan kritik intelektual dan menggerakan aksi massa untuk menggugat rezim yang tidak lagi berpihak kepada public pada umumnya, karena bagi aktifis PMII perjuangan hari ini secara strategis metologis tak harus sama dengan perjuangan di masa lalu, tetapi spirit dan nilai serta tujuan yang di adopsi harus tetap sama demi kemaslahatan umat (al maslahatul ummah), hingga menjadi salah satu bagian penting dari PMII adalah menjadi generasi pemegang mandat perjuangan ajaran islam ASWAJA dan tujuan berdirinya PMII dalam memperjuangkan kemerdekaan indonesia. Bagi PMII cinta terhadap agama harus senantiasa setali dengan cinta terhadap tanah air dan bangsa, perjuangan PMII adalah perjuangan untuk agama, bangsa serta kemanusiaan universal sebagai manifestasi dari ajaran islam rahmatan lil alamin.

Dengan persebaran cabang yang hampir merata di seluruh wilayah indonesia, PMII telah banyak berkontribusi aktif dalam berbagai agenda gerakan di berbagai lini bahkan telah banyak merasakan asam manis perjuangan dari era ORLA, ORBA hingga era reformasi. sejak reformasi di gulirkan PMII seperti kehilangan orientasi gerakan, hal ini terjadi di hampir semua organisasi, gerakan mahasiswa seakan tidak lagi memiliki taji dan sikap yang jelas bahkan tidak sedikit mengalami disorientasi serta degradasi ide dan gagasan.

Mulai saat ini pasca konflik sosial PMII adalah primadona bagi mahasiswa baru untuk menumbuhkan nalar kritis transformatifnya, sayangnya nalar seperti ini harus di barengi dengan medium kaderisasi yang strong, konsolidasi yang paten, tertib administrasi serta jualan ide dan gagasan ke ruang publik adalah sekelumit problem clasic yang harus di benahi di tambah lagi budaya primordial yang masih mendarah daging dalam setiap momentum gerakan keorganisasian PMII.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaderisasi di Rel Salah: Ketika Birokrasi Menumpulkan Intelektual, dan KOPRI Hilang Tanpa Jejak

Tapak Tilas Pergerakan; Dari sejarah Menuju Gerakan

Pelantikan Raya Pengurus Rayon PMII komisariat Guluk-Guluk; Momentum Baru Perjuangan Kader