Kaderisasi di Rel Salah: Ketika Birokrasi Menumpulkan Intelektual, dan KOPRI Hilang Tanpa Jejak


      Dalam idealitasnya, PMII adalah laboratorium intelektual dan ruang perjuangan nilai. Namun dalam praksis kekinian, justru kita menyaksikan sebuah kemunduran sistematis. Ruang-ruang kaderisasi intelektual hari ini bukan dibangun oleh struktur resmi seperti rayon dan komisariat, tetapi justru ditopang oleh inisiatif angkatan yang saling menopang di tengah kevakuman struktural.

    Sementara kader satu angkatan berjibaku menjaga api intelektual agar tidak padam mengadakan kajian, diskusi, hingga mendampingi kader-kader baru, struktur organisasi lebih sibuk menjaga citra, memburu posisi, dan merawat kepentingan. Rayon dan komisariat yang semestinya menjadi penopang utama kaderisasi, kini kehilangan orientasi. Mereka lebih aktif saat momen konferensi, tetapi pasif dalam proses kaderisasi.

    Nasib kader PMII seperti berada di rel kereta yang salah bergerak, tapi tak tahu ke mana arah. Masinisnya adalah para pemegang birokrasi yang kehilangan kompas nilai, dan para penumpangnya adalah kader yang terus dibiarkan mencari arah sendiri di tengah suara-suara struktural yang hanya ramai di forum-forum seremonial.

    Ironisnya, di tengah kegersangan intelektual itu, kelembagaan perempuan (KOPRI) pun seolah ikut menghilang. Dulu digadang sebagai ujung tombak gerakan perempuan progresif, kini KOPRI lebih mirip simbol administratif semata. Suaranya nyaris tak terdengar dalam diskursus keilmuan, tak nampak dalam arus kritik, dan kehilangan eksistensi dalam realitas kaderisasi. KOPRI yang dulu berdiri dengan gagah dalam barisan gerakan kini terjebak dalam ruang hampa birokrasi.

    Apakah kita sedang menyaksikan kematian sunyi kaderisasi intelektual dalam tubuh PMII? Sebab hari ini, intelektualitas tak lagi lahir dari struktur, melainkan dari sekelompok kecil kader yang tetap berpikir meski tak diberi panggung. Kualitas kader bukan ditentukan oleh kemampuan, tapi oleh kedekatan dengan elit. Maka tak heran, kaderisasi kita semakin semu berjalan tanpa substansi.

    PMII hari ini tidak sedang kekurangan kader cerdas, tetapi kehilangan struktur yang mampu mewadahi dan merawat. Rayon dan komisariat yang seharusnya jadi lokomotif justru berubah jadi beban. Sementara KOPRI, yang dulu digadang-gadang jadi wajah perlawanan perempuan, kini menjadi arsip yang nyaris tak dikenali lagi perannya.

    Jika struktur terus bungkam, dan intelektual terus ditinggal jalan, maka kaderisasi PMII tak lebih dari formalitas musiman. Kita tidak sedang bergerak maju kita hanya terjebak dalam rel yang salah, dengan masinis yang sibuk selfie di gerbong kekuasaan.

    Sudah saatnya PMII kembali kepada ruhnya: membangun struktur yang benar-benar peduli pada proses, bukan hanya pada posisi. Karena jika tidak, sejarah hanya akan mencatat: intelektualisme dikubur, birokrasi dijunjung, dan KOPRI dilupakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak Tilas Pergerakan; Dari sejarah Menuju Gerakan

Pelantikan Raya Pengurus Rayon PMII komisariat Guluk-Guluk; Momentum Baru Perjuangan Kader