JABATAN MERUSAK PERSAHABATAN

JABATAN MERUSAK PERSAHABATAN

Oleh : Fikalhizzu

Tepat pada hari selasa tanggal 17 juli 2019 aku dititipkan di pondok pesantren Al-Jalali, yang bertempat di desa Beluk Raja kecamatan Ambunten. Yang mana pondok pesantren ini memasuki kategori pondok pesantren tertua di Sumenep kususnya, yang dibawah asuhan K.H. Supenna, M.Pd.I.

Aku mondok bukan lantaran karena tekanan dari orang tua, ataupun ajakan dari sahabat atau kerabat. Melainkan keinginanku sendiri. Entah dimana dan dari mana mendapat hidayah, tiba-tiba saja ingin modok. Dan juga aku tak habis pikir terhadap keinginanku ini. Aku mondok tidak tahu letak pondoknya dimana?, pondoknya seperti apa?, dan bagaimana disana?, hanya bermodal keinginanan dan nama pondoknya.

Setelah aku dipasrahkan di dhelem, aku di arahkan oleh pengurus menuju kamar yang akan aku tempati. Tak lupa, aku juga dipasarahkan oleh orang tuaku pada ketua kamar dan kakak-kakak senior yang sudah lama bermukim disini. ”Bhin minta tolong, saya selaku orang tua dari saudara Hasan. Nitip Hasan dan bimbing Hasan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jika Hasan melakukan pelanggaran, di tegur dan di kasih arahan.” Ucap bapakku.

Usai aku dipasrahkan dan titipkan, semua saudara-saudaraku dan para tetangga yang juga ikut mengantar, merreka pulang kerumah. Dan aku langsung di ajak belanja berbagai macam makanan oleh ketua kamarku. Yang katanya, kalau santri baru mau minta ini itu pasti dikasih sama orang tuanya. Sebab hal tersebut yang menjadikanku boros, berbelanja semaunya, dan mengutamakan keinginan ketimbang kebutuhan. Sampai-sampai aku menghabiskan uang serartus ribu sekali masuk koperasi. Jarang-jarang kan belanja sebanyak ini, mumpung lagi masa-masa santri baru, yang dimanja oleh orang tua.

”Assalamualaikum”. Aku telah sampai di kamar dan tak lupa mengucap salam sebelum masuk kamar. Memamng sudah biasa hal seperti ini, namanay juga santri baru. Jangankan larangan-larangan, ingin melakukan sesuatu yang memang dibolehkan oleh pesantren masih ditanya pada kakak senior. Ini berbica perihal santri baru, sangatlah jauh berbeda jika dibandingkan dengan santri lama, yang ke kamar mandi hanya membawa sebuah sabun dan sikat gigi. ”Mat Tanjaaaarr”. Bisa-bisanya dia ada disini.

Mat Tanjar merupakan sahabatku yang satu sekolah di waktu MTS. Masak iyah bisa disini. Sebelum-sebelumnya ia tidak pernah cerita padaku, setelah lulus MTS mau melanjutkan kemana atau mau mondok kemana. Sebab itu aku terkejut bertemu dengannya disini. Lansung saja aku duduk dan saling cerita dengannya dimulai dengan jurus 5W+H, apa, siapa, kapan, mengapa, dimana, dan bagaimana, lalu dia jawab sesimpul-simpulnya. Ternyata dia mondok disini karena ada kakak sepupunya, yang sekarang kakaknya menjabat sebagai pengurus pesantren. Dan juga dia akan melanjutkan jenjang pendidikannya di MA 1 Al-Jalali, sama sepertiku. P.P Al-Jalali banyak memiliki satuan pendidikan mulai dari jenjang PAUD, TK, MI, MTS, MA, MAK, MAT SMA, SMK dan Perguruan Tinggi. Yang mana setiap satuan pendidikan yang berada di naungan P.P Al-Jalali, putra dan putri dipisah.

Saat ini aku dengan Mat Tanjar sudah mulai bersekolah, Cuma saja kita beda kelas, aku yang di kelas IPS1 sedangkan Mat Tanjar di kelas IPS2. Namun kita hanya di sekolah formal yang beda kelas, sedangkan di non formal (diniyah) dan Bimbingan Kusus (Bimsus) kita sekelas, bahkan satu bangku.

Tiga tahun kita menempuh pendidikan bersama, belajar bersam, berproses bersama, bahkan mandi juga bersam. Bukannya kita HOMO atau semacamnya, memang seperti ini kehidupan di pesantren, semua serba bersama.

Malam Sabtu semua santri tidak diperkenankan keluar masjid setelah shalat jema’ah Isa’. Hati mulai dag dig dug, mungkin bukan cuma aku sendiri, namun teman-temanku yang lain juga ikut merasa dag dig dug hatinya. ”Razia, razia,,, sekarang razia rambut.” Memang benar dugaanku, santri ditahan untuk tidak keluar masjid karena ada razia rambut. Biasanya razia rambut rutin dilakukan setelah dekat-dekat liburan pondok oleh Kamtib. ”Cek,,cek,, Assalamu....”. ”Huuuuyyyy”. Belum saja pengurus selesai mengucap salam, para santri dengan serentak memotong salamnya dengan sorakan. Bukan karena apa dan ada apa, ternyata dugaanku dan teman-temanku salah. Bukan razia rambut, melainkan sekedar pengumuman dari pengurus harian pesantren.

Jadi pengurus harian pesantren mengumumkan Resavelan pengurus pesantren dan betapa kagetnya aku. Masak iyah Mat Tanjar di angkat menjadi pengurus. Padahal dia sama buruknya denganku, dan juga dia seangkatan denganku, bahkan kesehariannya pun selalu bersamaku. Mat Tantar saat ini di angkat sebagai pengurus keamanan dan ketertiban (Kamtib). Mungkin sebab dari di angkatnya dia karena dia suka melanggar dan tau bagaimana jalannya dan dimana tempat para santri melanggar, jadi dia yang akan memberantas santri-santri yang suka melanggar. Terus bagaimana dengan nasibku?, aku kan tidak jauh berbeda dengannya. Sudahlah mungkin belum bagianku.

Tak lupa ku ucapkan selamat pada Mat Tanjar dan menyangjungnya yang sekarang menjabat sebagai pengurus Kamtib P.P Al-Jalali. ”Mat, ada pesan singkat dariku. Jangan sampai jabatan merusak persahabatan.” Mat Tanjar hanya tertawa mendengar perkataanku dan merespon dengen sedikit cengengesan. ”Kamu san, san. Kita berteman sudah lama, dan kamu sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri. Mana mungkin aku melupakanmu karena jabatanku ini.” Sejak itu aku pegang omongan Mat Tanjar, semoga saja dia tidak khianat terhadap perkataannya sendiri.

Pada malam itu sebulan setelah Mat Tanjar menjabat di kepungurusan, aku iseng mengajaknya ngumpul di rutinitas mingguan jurnalis muda Al-Jalali. Karena sudah lama dia tidak ngopi dan diskusi bareng, selalu saja berkata izin, izin, dan izin ketika di ajak. Sekarang, merupakan keempat kalinya aku mengajaknya, tidak ada perbedaan, masih sama dengan jawaban-jawaban sebelumnya. Aku sempat berfikir. Sejak Mat Tanjar menjadi pengurus, persahabatanku dengan dia semakin hari semakin merenggang. Namun disisi lain aku juga berfikir, mungkin cuma firasatku yang tidak baik-baik saja.

UAS kampus telah usai, waktunya Mahasiswa libur kurang lebih satu bulanan. Biasanya aku dengan Mat Tanjar ketika sudah liburan kampus, sering sekali kita pulang (kabur dari pesantren). ”Mat, besok kita pulang yuk?.” Dengan muka yang amat kusam ia menjawab. ”Maaf san aku tidak bisa, sudah kamu pulang sendiri saja.” Kecewa? Iya sangat kecewa. Langsung aku balik ke kamar dan merenung sendiri.  Sekarang firasatku tak mungkin salah, Mat Tanjar memang berubah sekarang, tidak seperti yang dulu aku kenal. Bukan sekali dua kali aku merasakan perubahannya, dilihat dari sikapnya yang semakin angkuh, perkataannya yang melangit, dan keakrabannya yang semakin hari semakin hilang.

Sore hari setelah shalat jama’ah ashar aku putuskan untuk pulang sendiri dari pondok tanpa seorang teman yaitu Mat Tanjar. Biasanya aku langsung mencari tumpangan dengan memberhentikan setiap mobil yang lewat. Kurang lebih satu jam dan Alhamdulillah ada mobil berhenti dengan senang hati memberikanku tumpungan yang kebetulan tujuannya searah dengan jalan menuju rumahku. Sesampainya di rumah, aku langsung disambut dengan pertanyaan heboh dari ibuku. ”Ada apa kamu kok pulang san? Dan kenapa kamu sendiri, biasanya kamu tak pernah lepas dengan Mat Tanjar.” Betapa dekatnya aku dengan Mat Tanjar, ibuku saja sampai hafal bagaimana aku dengannya.”Hmmm,,, gak ada apa-apa bu, cuma pengen pulang mumpung lagi liburan kampus. Anu bu,, Mat Tanjar lagi sibuk di pondok, dia sekarang kan sudah menjadi pengurus di pondok.” Satu jam aku habiskan bicara dengan ibuku, bercerita mengenai kaseharianku di pondok.

Setelah empat hari menetap dirumah, aku putuskan untuk kembali ke pondok. Karena mengapa, tidak enak dilihat masyarakat sekitar, mondok kok suka pulang. Aku ke pondok diantar oleh ayah. Kembali ke pengaturan awal, berjema’ah, mengaji, dan belajar. Belum saja aku masuk ke kamar, tiba-tiba Wardi memanggilku. Wardi ini merupakan teman seangkatanku yang kamarnya bersebelahan denganku. ”Ada apa War?.” Tanyaku. ”Gini san, kemaren pas kamu pulang kemalamannya Mat Tanjar nanya kamu pulang apa tidak?. Terus tadi malam juga nanya kamu udah balik apa belum.” Dalam pikiran bercampur aduk berbagai macam pertanyaan, pasti ada yang tidak beres.

”Cek,,cek...panggilan saudara Hasan blok B nomer satu, sangat dibutuhkan kehadirannya di posko panggilan.” Baru saja aku ingin beranjak makan usai jam belajar, malah ada panggilan dari kantor. ”Aduh...sekarang kan malam Ahad, bagiannya Kamtib menangani santri yang memiliki pelanggaran.” Ucapku dalam hati sambil menggaruk-garuk kepala. Aku yakin pasti ada hubungannya dengan Mat Tanjar. Langsung aku bergegas menghadap ke kantor. Tiba disana, ternyata benar panggilan dari Kamtib. Semua Kamtib sudah standby di kantor dengan senjata andalannya rotan. Namun tidak ada Mat Tanjar disini.

Pukulan demi pukulan tertuju padaku, sebab aku tidak jujur pada Kamtib. Bagaimana aku mau jujur sedangkan Kamtib tidak jelas dapat kabar dari siapa tentang aku yang pulang. Hal ini yang membuatku tidak ingin jujur, agar aku tau siapa dalang di balik semua ini. ”Mat Tanjar yang bilang kamu pulang, dan memang benar kamu tidak ada di pondok selama empat hari, masih tidak mau jujur kamu?.” Dengan kesal dan kecewa pada Mat Tanjar, aku jujur dan buka suara pada Kamtib. ”Iya pak, saya pulang dari pondok tidak pamit.” Langsung saja aku disambar pukulan keras dari Kamtib, pukulan penutup sebelum aku di pelontos dan mendapat hukuman hadiran selama lima belas hari.

Lima hari aku telah menjalankan hadiran, sampai-sampai harus ambil resiko tidak masuk kampus karena takut mengulang. Aku sempatkan buka HP untuk menghubungi temanku, minta tolong izin untuk jam tiga karena harus hadiran. Belum sampai lima menit buka HP, tiba-tiba saja Mat Tanjar masuk dalam kamar dan melihatku sembari bermain HP. Tak ada kata satu atau dua patah, Mat Tanjar langsung merampas HP ku dan langsung keluar kamar lalu berkata. ”Jemput ke kantor.”

Entah kenapa akhir-akhir ini hidupku selalu bernasib buruk, hadiran belum kelar malah nambah lagi. 15 hari ditambah 41 hari totalnya jadi 56 hari, dua bulan kurang empat hari. ”Sudahlah san, mungkin ini sudah jalan yang terbaik bagimu.” Ucap Wardi sembari membujuk dan menenangkan pikiranku. Lantaran yang aku pikirkan bukan perihal hukuman, melainkan kelakuan Mat Tanjar yang semakin hari semakin keterlaluan. ”Terus aku diam saja begini War? Sedangkan aku diperlakukan sepertini ini olehnya, yang benaar saaaja....ruuugi doong !!.”

Atas kejadian ini aku jadi ingat janji Mat Tanjar dulu, perihal JABATAN MERUSAK PERSAHABATAN dan hari ini benar-benar terjadi padaku.


Lubangsa, 8 Februari 2024 M.


*Fikalhizzu, adalah nama pena dari Hizzufikal. Kelahiran Sumenep 21 oktober 2004, santri asal Beluk Raja Ambunten Sumenep, mengapdikan diri sebagai takmir masjid jamik Annuqayah dan kini menjadi Mahasiswa aktif INSTIKA jurusan; Ekonomi Syariah. Karya-karyanya pernah termuat di LINTANG sebagai penulis terbaik dengan judul antologi Find’it. Salam pergerakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaderisasi di Rel Salah: Ketika Birokrasi Menumpulkan Intelektual, dan KOPRI Hilang Tanpa Jejak

Tapak Tilas Pergerakan; Dari sejarah Menuju Gerakan

Pelantikan Raya Pengurus Rayon PMII komisariat Guluk-Guluk; Momentum Baru Perjuangan Kader