HUKUM DIKAMPUNGKU


H
UKUM DIKAMPUNGKU

pada mulanya adalah fitnah

ketika tetangga bersorak-sorak kegirangan mengadu kepada kepala desa

ah...hanya orang-orang bodoh yang menuduhku bermain-main perempuan di semak-semak

apalagi menghamili perawan orang tak berperasaan

bahkan masih kuingat kebisingan mulut tetangga sepanjang jalanan menuju rumahku

tak ada henti-hentinya mencaci dan hanya ingin menangkap

untuk menggantung riwayat hayatku

padahal aku hanya bercinta

adakah yang berdosa tuan.


apakah ada yang bersalah ketika aku jatuh mencintainya

walau jauh aku akan terus menyanyikan senandung rindu untuk sang kekasih

mengirim surat kabar tentang kesetian yang abadi saban hari

sebagaimana pekabar para nabi.


aku terus melangitkan harap pada dekap

layaknya bocah memanggil-manggil kekasihnya yang tak lagi ada rasa malu untuk menyapa dihalayak pasar desa

maka tersenyumlah engkau sebagai orang yang kucintai kekasih

sebab jika ada orang menyangka dan bisik-bisik pada tetangga lainnya

apalagi sampai menuduhku gila karena cinta setelah Majnun

barangkali aku orang kedua setelahnya.

Legendaris F/05, 2023


RISALAH DUKA

Air dan mataku berkilauan di bangkai-bangkai hujan saat November

Ketika mengingat-ingat kembali risalah matahari yang datang menguburkan mayat-mayat pemuda juang di garda terdepan

Tanpa pikiran dan perasaan lagi maju demi mempertahankan sebuah “kemerdekaan”

Bersi keras menerobos batas kenyataan melawan cong yang kekuasaan Belanda

Dari penguasa, pengusaha, sampai rakyat jelata serentak mengatakan “lawan”

Dibawah kendali Bung Tomo dan kiai Hasyim asy’ari di Surabaya.


Melihat hidup di zaman ini, marko

Tak ada bosannya orang-orang bermain politik dengan mengatas namakan agama

Mengecam kritikan dan mengancam kedamaian

Semata-mata kemerdekaan hanya rekayasa penguasa semata

sebab rakyat jelata...tahu apa.


Maka jangan...

Jangan kau biarkan berhenti menyanyikan kebenaran hanya semata-mata kepentingan mulutmu

Yaitu uang yang menina bobokkan keadilan

Yang malah merusak kemerdekaan dan kesejahteraan.


Legendaris Of Social F/05, 2023  


CELURIT AIR MATA

untukmu yang tunggal disana kuhaturkan salam, apa kabar di penjara suci hari ini kekasih, entah risalah apalagi yang mesti kuhadapi setelah kejadian memilukan, rasanya sungguh aku tiada harap sebagai laki-laki yang mencintai, bukan perihal kegagalan dalam meminang perawan sepertimu, akan tetapi aku mendapati kabar tak begitu manis, sebagai mana tentang janji-janji gelombang pada pantainya.

tentu aku masihlah ingat kekasih, bagaimana salam pamitmu di pebukitan harap agar tak ada banjir kembali pada kedua mata kita, bahkan telah kuhapus lelah dalam penantian panjang saat pertama menyusun tebing-tebing khayal, walau ternyata dugaanku untuk risalah ini ternyata salah, setelah aku tahu engkau kabur tanpa sepatah kata dari jejak laki-laki air mata.

bagaimana bisa aku masih melangitkan namamu, dan masih bertabah hati menunggu akhir keputusan dengan jeda waktu, tetapi jika seumpama benar garis nasib hayatku memvonis untuk sama-sama melarikan jejak, lalu siapa lagi yang akan memeluk mesra rasa sepiku kekasih, sebab kuasa dan hendakku, barangkali hanya mencium bibir luka-luka sesal saja.

Legendaris of social, 2023




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaderisasi di Rel Salah: Ketika Birokrasi Menumpulkan Intelektual, dan KOPRI Hilang Tanpa Jejak

Tapak Tilas Pergerakan; Dari sejarah Menuju Gerakan

Pelantikan Raya Pengurus Rayon PMII komisariat Guluk-Guluk; Momentum Baru Perjuangan Kader