Cerpen



DUKA YANG SELALU BERSUA

Oleh: Rosyi_Farent*

Malam ini, adalah malam resah penuh gelisah sebab dari keluarga kami, tepatnya tulang punggung keluarga sudah terbaring lemah, lemas di atas ranjang tengah. Setiap waktu aku sering mendengar desah kesakitannya, karena penyakit yang dideritanya telah datang menghadang. Penyakit ini dicipta oleh manusia tak memiliki apa?, bisa dibilang penyakit itu ulah komat-kamit sembur yang tak pandang bulu. Tak mengerti dengan keadaan Bapak yang hampir berkepala empat dan mempunyai dua orang anak, satu laki-laki, satu lagi perempuan. Yaitu, Dodi dan Diana. Berat rasanya meninggalkan anak beserta keluarganya.

***

Pagi ini terlihat cerah, bagi setiap orang yang berlalu-lalang dan beraktivitas dengan riang. Tapi, bagi keluarga kami, pagi ini serasa mendung. Mengapa tidak, ketika anak-anak lain sekolah. Dodi anak pertama kami rela meninggalkan sekolah demi merawat dan menjaga Bapaknya yang sakit.

“Mengapa kamu tidak pergi ke sekolah Nak?” Kata Ibunya.

“Aku ingin membantu Ibu, merawat Bapak yang lagi sakit” Jawabnya.

“Dodi, jangan risaukan Bapak! Bapak baik-baik saja kok” Tegur sang Bapak.


Kemudian Dodi menuruti perkataan Bapaknya, Ia berangkat dengan hati bimbang. Karena, Ia takut sekali jika nanti Ia tidak punya Bapak, dan tidak sama dengan teman-temannya. Sesampai di sekolah Ia belajar dengan fikiran ke mana-mana, tak sadar Ia termangu dalam pelajaran hingga bel istirahat berbunyi.

“Ah, rasanya aku belum sekali mengutip dan mencatat apa yang disampaikan guru tadi.” Kata Dodi yang gelisah dalam hati.

“Hei, ke kantin yuk.” Ajak Rendra yang tiba-tiba muncul.

“Mau ngapain?” Jawab Dodi yang sedikit terkejut.

“Ya makanlah! Masak olahraga.” Ejek Rendra.


Rendra adalah anak nakal di kelasnya, semua anak tahu bahwa Ia pernah ketagihan dengan narkoba. Rendra cepat sekali mendapat teman, karena dia tipikal orang mudah membaur dan sangat percaya diri. Dalam sejarahnya, ketika siswa maupun siswi yang lain malah malu-malu. Tapi Redra cepat sekali berinteraksi pada siswa yang bersetatus kakak maupun adik kelas. Orang tua Rendra pergi merantau, Ia hanya tinggal bersama kakeknya. Dimanja membuat Rendra mengelunjak setiap kali ditegur oleh kakeknya.


Mereka berdua berangkat ke kantin bersama, dalam perjalanan ke kantin mereka berbincang- bincang tentang pelajaran, kadang juga bercerita tentang hal yang seharusnya disimpan sendiri, bisa disebut hal pribadi. Diperjalanan Rendra telah dicegat dan dipukuli oleh segerombolan anak yang menjadi musuhnya. Dodi yang melihat miris dengan keadaan Rendra langsung membantunya melawan musuh Rendra dengan sekuat tenaganya. Hasilnya nihil dia babak belur dengan muka lebam dan tangan terluka parah hingga tidak sadarkan diri. Setelah kejadian itu anak-anak yang merasa kasihan kepada Dodi langsung membawanya ke ruang UKS. Namun obat-obat di UKS tidak ampuh umtuk membuat Dodi sadar. Ketika semuanya sudah tegang tentang keadaannya salah satu guru mengambil langkah cepat. Pak Cipto bergegas membawa Dodi kejalan pintas yaitu rumah sakit untuk diperiksa di sana.

“Luka parah dibagian kepala, membuat Ia tak sadarkan diri.” Ucap Dokter Anwar.

“Tolong Dok! Lakukan yang terbaik untuk teman saya.” Pinta Rendra.


Luka Rendra cukup ringan. Tapi, Ia lupa memberitahu kepada orang tua Dodi tentang keadaannya yang tak sadarkan diri. Pukul 13.00 Rendra berangkat ke rumah Dodi untuk memberitaukan kecelakaan tadi, setibanya di sana Ia langsung to the point tentang apa yang dialaminya bersama Dodi tadi. 

“Assalamualaikum.” Sapa Rendra dari luar

“Waalaikum salam, ya ada apa?” Jawab Ibu Dodi di depan pintu 

“Maaf sebelumnya, saya temannya Dodi.” Ucap Rendra 

“Oh…. Ia ada apa nak?” Jawab Ibu Dodi penasaran  

“Begini bu, ini tentang keadaan anak Ibu, Dodi!”

“Kenapa dengan Dodi? apa dia baik-baik saja?” Tanyanya cemas; Memotong pembicaraan Rendra 

Anak Ibu berkelahi, dan tak sadarkan diri” Ucapnya terbata-bata 

“Hah, kok bisa terjadi seperti itu?” Ibu Dodi bertanya dengan mata yang menyimpan gerimis.

“Sebenarnya saya dikeroyok orang tak dikenal, tapi anak Ibu malah menolong saya dan terkena pukulan mereka. Setelah dipukuli sampai babak belur dan anak Ibu pingsan.” Rendra mencoba menjelaskan 

“Ya Allah, sekarang Dodi ada di mana? Dan bagaimana kondisinya sekarang?” Kini gerimis mulai jatuh pada kedua pipinya yang rona

“Anak Ibu sekarang masih tak sadarkan diri, dia dirawat di rumah sakit Anwar”

***

Kala sore mendung menyulang  dunia. Ibu Dodi meminta izin kepada suaminya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, walau nyatanya hanya sebagai alasan agar bisa menjenguk anaknya. Akhirnya Ibu Dodi diberi izin oleh suaminya. Setibanya di rumah sakit Ia langsung pergi menuju ruangan Dodi dan melihat anaknya terbaring di atas ranjang. Ketika Ibu Dodi menyentuh keningnya, Dodi terbangun seketika.

“Bagaimana keadaanmu nak?” Tanya Ibunya 

“Alhamdulillah sudah mendingan” Jawabnya dengan suara lirih 

“kata Dokter, sekarang kamu sudah boleh pulang” Ujarnya

“Alhamdulillah kalau begitu, mari kita pulang, aku sudah tidak betah tinggal lama-lama di sini.  Aku juga kangen sama Bapak!”

“Assalamualaikum Ibu Dodi” sapa tetangganya yang tiba-tiba masuk dengan nafas ngos-ngosan 

“waalaikum salam, ada apa kok kelihatan tergesa-gesa” Tanya Ibu Dodi penasaran

“Anu Bu…. Suami Ibu meninggal dunia” Ucapnya terbata-bata 

“Hah….?” Mendengar itu, Ibu Dodi kaget. Darahnya terkesiap. Matanya membelaka pudar perlahan dan tak sadarkan diri.

***

Selepas itu Ibu Dodi dan anak-anaknya memulai kehidupan baru tanpa seorang suami dan Bapak bagi anak-anaknya. Dengan sabar, meskipun terkadang rasa cemburu menghampiri saat  melihat keluarga tetangganya yang masih lengkap. 


*Rosyi_Farent nama pena dari Moh. Ainor Rasyidi, anak asuh IKSAPUTRA, Sanggar AIDS, dan juga Kader Rayon Said Budairi (SABU) PMII Komisariat Guluk-guluk angkatan ’21.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaderisasi di Rel Salah: Ketika Birokrasi Menumpulkan Intelektual, dan KOPRI Hilang Tanpa Jejak

Tapak Tilas Pergerakan; Dari sejarah Menuju Gerakan

Pelantikan Raya Pengurus Rayon PMII komisariat Guluk-Guluk; Momentum Baru Perjuangan Kader